Being an Antropologist

Terkesima dengan perjalanan singkat menjelajah Baduy pas SMA. Membuat saya mengambil keputusan untuk mendalami ilmu Antroplogi. Berharap, isi kuliahnya cuman jalan jalan. Sayangnya, saya terlalu polos. Antropologi itu ribet bgt! Teori teori sosial & budaya itu mencengangkan buat saya. Cukup membuat kepala pusing membaca si Giddens & kawan kawan. Bayangkan saja, mata kuliah teori teori sosial berseri dan tiada habis habisnya. Mulai jatuh cinta dengan ilmu ini, terutama ketika dihadapkan dengan tugas tugas kuliah yg kelewat random, weird, & fun. Dari mulai meneliti tingkah laku masyarakat kota, sampe ke perkampungan di daerah Kuningan Jawa Barat, bahkan meneliti kehidupan anak anak kampus saya sendiri, dan pernah juga meneliti kehidupan masyarakat kota di sekitar kawasan wisata. Tugas tugas meneliti benar benar menyenangkan.

Antropology : We doing our homework by observe society like anywhere.  We don’t  just sitting around in the desk and get bored.

Penelitian mengandalkan kejelian dlm observasi,….bagaimana melihat keadaan sosial dari luar ke dalam. Dari yang kasat mata sampai mencari makna yang tak kasat mata. Mencari hal hal yang tak terungkap. Berasa jadi dukun, saya dan teman teman kuliah dulu menamainya jurusan kami sebagai ilmu dewa *hahaha!!

Ditempa oleh tugas tugas meneliti & observasi. Kemudian mengantarkan saya ke dunia tulis menulis & traveling. Rasanya gara gara jurusan Antropologi ini, saya jadi travel junkie, sekaligus banci blog. Dan akhirnya, kecemplung di fotografi. Abisnya, moment traveling itu kan harus di abadikan. Lagian hasil hasil traveling itu ibarat hasil penelitian, yang klw gak ada bukti foto, keabsahannya dipertanyakan right?!

Well, if I could turn back time, i will choose Antropology again of course, I love it!! Jurusan ini membuat saya jeli dalam melihat hal hal yang tak terungkap. Ketimbang memperhatikan ucapan seseorang, sama lebih suka memperhatikan gesture tubuh, pakaian, mimik muka. Ketika dia bilang senang tapi mukanya datar, well…berarti..ada udang di balik batu.

Dan tentunya, sebagai seorang Antropologist, saya menantikan film ini. Film yang menceritakan kisah Butet Manurung mengabdikan dirinya di suku Anak Dalam jambi. Well, she is such an inspiration!!

Sekaligus menanti kesempatan bisa penelitian ke tempat eksotis lagi..huhuhu

Advertisements