CoffeeBreak, Rain, & You

“Your friend is the man who knows all about you, and still likes you.”
— Elbert Hubbard

Jakarta, 16.40.
Dia menatap ku, menatap diri ku yang sedang menyeruput plain kopi yang kami pesan sore itu. “u look so quiet today” he said

Aku hanya tersenyum singkat, merasa jengah. Aku hanya tidak ingin ada satu pun manusia mengganggu ku menikmati hujan. Sekalipun dia teman lama yang sangat metropolitan dengan gadjet super lengkap yang selalu membuat ku iri dengan kisah sukses hidupnya. Iri karena aku berharap suatu hari nanti aku akan seperti dia, menduduki posisi penting diperusahaan ternama dan bergelimang harta ditengah keluaraga yang tidak akan pernah jatuh miskin hingga tujuh turunan. Hanya saja hari itu..aku sedang tidak peduli dengan nama belakang dia yang cadas, aku bahkan tidak peduli dengan biaya listrik dan tarif tol yang melunjak, aku sedang jatuh cinta dengan hujan. Jendela besar dihadapan ku membuat ku tersihir, aku melihat kekasih ku sedang menari-menari membasahi sudut pikuk jakarta.

kemudian, aku menatapnya…sosok dihadapan ku, entah sudah berapa tahun kita tidak bertemu hingga tiba-tiba saja Tuhan memberikan dia postur tubuh menjulang tinggi dan berisi. Dia sangat bertolak belakang ketika kita masih sekolah dulu, namun cara ia tersenyum masih sama…memberikan efek menyembuhkan. Padahal ia bukan ahli psikologi atau cenayang, tapi bertukar pikiran dengannya tentang arti hidup selalu memberikan kenyamanan dan memberikan kekuatan tak kasat mata untuk kemudian mengambil masalah-masalah hidup ku yang tercecer di jalan.

“apakah kalian berpacaran?” pertanyaan itu pernah diajukan ke kami suatu peristiwa. Lalu kami menjawab dengan gelengan kepala pelan. Lalu aku merasa tidak nyaman..sangat-sangat tidak nyaman..ketika ku lihat dua atau tiga wajah berparas cantik menatap lega mendengar berita ini. Aku tidak nyaman dengan pikiran picik kalian, memangnya berteman dengan pria impian jutaan wanita harus dijalani dengan ketidaktulusan? aku tulus berteman dengannya, tidak pernah terpikir sekalipun untuk menjadikannya pacar. Dia ku anggap terlalu sempurna, layaknya tokoh komik. Dan sebaliknya dia menganggap ku unik cenderung freak. Inilah yang menjadikan kita friendship for life. aku yang merasakan aroma segar ketika berteman dengan si aristokrat ini. Cara berfikirnya, benar-benar membuat si rakyat jelata seperti aku kagum.

hingga kini kita berbagi dua dunia yang berbeda, kelas atas dan golongan kelas bawah, aristokrat dan jiwa anarki rakyat jelata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s