Jakarta Traffic Love Stories

Udara jakarta berteriak marah pada pukul 3 siang itu, seakan-akan matahari hanya berjarak seratus meter dari kepala. Sambil berkeringat peluh, Dara memainkan rambut bergelombangnya. Ia menatap lautan manusia di terminal busway arah grogol sambil mengutuk pelan. Persetan dengan jakarta. “Panasnya membunuh ku perlahan”, dara memaki sambil mencari uang lima ribuan di dalam tas selempangan.

“terima kasih dek” ucap petugas Busway sopan. Dara tersenyum terpaksa, ia paling benci jika ada orang memanggilnya dengan sebutan adek. Lebih baik dipanggil tante girang ketimbang adek. Bukan salahnya jika ia hanya memiliki tinggi badan krang dari 150 cm saja, toh kedua orang tuanya ketua perkumpulan golongan manusia bonsai se-Jakarta. Jadi Dara tidak heran jika tinggi badannya berhenti tumbuh saat ia masih SMP berpuluh tahun yang lalu. Pikirnya, Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Dan sekali lagi, ia mengutuk pelan..”persetan dengan Jakarta dan keramahtamahannya yg berengsek”.

Dara menghela nafas berat ketika ia menyeruak kerumunan manusia-manusia tidak sabaran yang berlomba ingin cepat pulang. Mereka seperti kucing jalanan yang sedang berebut tulang. salah, mereka layaknya kucing garong sedangkan dara dengan tubuh pendek hanyalah tikus got yang harus siap-siap mengalah. Dengan sangat tahu diri Dara menyingkir, ia membiarkan saja beberapa bus melewati dirinya. Ia mengalah pada kucing garong yang menggeram marah satu sama lain demi mendapatkan bangku kosong. Tubuh berkeringatnya menyender pada dinding kaca, tak ada sedikit pun senyum di wajahnya. Dara merasa kalah. Tiba-tiba ia merindukan kota Bandung yang dingin. Merindukan hari-hari menyenangkan disana. Paling tidak, bandung tidak pernah membuatnya merasa seperti tikus got yang lepek. Udara Bandung sangat bersahabat, angin sejuk selalu datang menyapa lembut tubuhnya. Selimut menjadi kekasihnya saat malam. Otaknya dingin, amarah lebih banyak terdiam di ruang jiwa dan tak mampu bersuara.

Kini amarah sering muncul dipermukaan, seiring dengan udara panas, macet dan polusi kota Jakarta. Seiring dengan keseharian Dara yang harus berdesak-desakan, seiring dengan waktu yang lebih banyak dihabiskan di jalan ketimbang menjadi produktif karena macet mengambil setiap menit berharga dalam hidup manusia.

Entah sudah berapa jam berlalu dalam diam, entah sudah berapa banyak Busway yang melewatinya..Dara mendapati diri memperoleh ruang sempit untuk berpijak menuju kebon Jeruk, untuk bisa kembali bermain dengan kucing persia gendut di sofa kayu ruang tamu. Ia menyerahkan keseimbangan tubuhnya pada pegangan minim di busway. Entah siapa yang membuat standart tinggi- rendahnya bus Jakarta, yang jelas pegangan bus hanya mampu diraih dara ketika ia berjinjit sepenuh tenaga. Dan Berjinjit dalam waktu yang lama bukanlah perkara mudah. Dara jelas-jelas bukan Balerina. Lagi-lagi Persetan dengan Jakarta..

Dara terjatuh, ketika supir berjas itu mengerem dan menginjak gas tiba-tiba. Dara terjatuh hebat hingga tubuhnya menghantam keras manusia yang duduk dikursi dihadapannya. Mata bulatnya mencari-cari sepatu high heel yang terlepas dari kaki pendeknya. Seharusnya sepatu itu tidak terlepas terlalu jauh, namun karena terlalu berdesak-desakan ia tidak dapat melihat kebawah dengan jelas. Lampu Busway itu temaram saja seperti lampu kamar mandi di wc umum murahan pasar senin. Dara panik, kepanikannya membuat ia lupa meminta maaf pada sosok dihadapannya yang telah ia hantam. Otaknya sibuk mencari sepatu sialan. Seketika tangan panjang sosok itu mengambil sesuatu dan meraihnya..meraih sepatu sialan itu. Ia dengan mudah menemukannya. Dara merasa lega, ia meraih sepatu itu sambil berjanji tidak akan pernah menggunakannya. Demi seluruh tikus got di Jakarta, ia berniat menyingkirkan sepatu itu dari hidupnya.

‘terima kasih”, ucap Dara Pelan. Mata bulatnya kini bertemu dengan mata jenaka pria dihadapannya. Pria yang telah dihantamnya keras dan membantu menemukan sepatu sialannya itu. Pria itu tersenyum. Lebih tepatnya senyum agak mengejek, entahlah…

Lalu dalam gerakan yang amat cepat pria itu berdiri dan berucap pelan: “duduk aja..pasti capek kan jinjit terus dari tadi”. Dara bengong…ia malu karena ketahuan terlalu pendek, meskipun ia sudah memakai high-heel sepenuh hati untuk membuat dunia percaya bahwa ia manusia dan bukan pohon bonsai.

……………………………………………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s