Kisah Nara & Fino (Part 1)

Demi Melihat matahari terbit di dataran tinggi dengan pelataran bukit-bukit landai, Nara rela bangun pagi-pagi sekali. Embun di dedaunan menebar aroma kesegaran di wajah mengantuk Anara, rambut ikalnya tertutupi oleh syal yang kebesaran, tangannya mendekap ke dada menahan dingin, sesaat kemudian  tangan berpindah ke kantong jaket tebal berwarna ungu yang tampak manis ia kenakan

Nara mendaki ke puncak bukit perlahan, ia perhatikan kepulan asap yang keluar dari mulutnya setiap kali ia tertawa lebar, “Ini seperti di luar negeri yah”?, ucap Nara sambil pamer dua gigi kelinci. Pria di sebelahnya menatap malas setelah menguap panjang, “asli deh, gigi lo serem”. Nara memberikan kepalan tinju ke bahu  Fino untuk  marah yang di buat-buat. “

“Liat deh, sepatu gw kok beda sebelah”, Fino berucap. Anara menoleh kemudian tergelak menghentikan langkah, ia menunjuk-nunjuk kaki Fino dengan takjub. “Otak lo belom beres juga yah, No”, Anara menyeringai bak serigala, kamera yang ia tenteng kemudian menyala. Lampu flash Cannon menyoroti kaki Fino tanpa ampun, ditemani cacian yang mengganggu telinga, namun Fino masih saja setengah tidur meskipun tawa Anara membahana hingga ke ujung bukit paling atas.

Tepat di puncak bukit, penjual kopi dan teh manis berjajar rapih di tepian. Dikerubuti pendaki Ibu-Ibu yang tengah mengatur nafas dan duduk-duduk selonjoran. Nara menyeruak keramaian bukit dan melayangkan pandangan mata pada kejauhan, ia membalikkan punggung dan mendapati lautan pasir Gunung Bromo di bawah, berdiri sejajar dengan tingginya Gunung Bromo dan melihat kepulan asap Gunung Sumeru. Seketika Fino merusak pemandangan. “Fino lo ngapain di situ?”, setengah berteriak Anara berjalan ke arah Fino yang tengah bergabung dengan gerombolan Ibu-Ibu setengah baya. “Emangnya kita kemari cuman buat duduk”, Fino menatap Anara yang wajahnya menggelap karena pantulan. Fino menoleh lalu terdiam, “Nar liat deh”, tangan Fino menunjuk ke arah matahari yang baru saja muncul di tengah pelantaran bukit bukit yaitu semburat kemerahan yang bercampur dengan kabut. Anara terhipnotis, ia kagum. “Potret nar..potret buruan, keburu ilang dodol,“ ucap Fino.

“Sini gw ajah”, Fino meraih kamera ditangan Nara lalu memainkan fokus dan mengambil gambar dengan pose pose ganjil seperti kaki kanan jinjit ke kiri, berjongkok, hingga pose menyenderkan siku tangan pada bahu Nara.

Setelah puas, mata Fino menangkap obyek yang membuat jantungnya bergerak lebih cepat, lebih indah dari semburat kemerahan. Ia mengunci obyek lalu…jepret. “Lo ngapain sih moto gw segala,” Nara berteriak sambil menimpuk Fino dengan batu batu kecil. “Awas kena kamera dodol,” Fino berlari menjauh, sambil bergumam pelan,  “ I wish you know …nar”.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s